Kami bertemu pertama kali pada tahun 2007, di rumah budhe saya. Bukan kebetulan, tapi memang disengaja. Budhe (kakaknya ibu saya) kenal dengan ibunya dia, trus ya biasa kalau punya anak yang sudah dewasa saling bertanya-tanya, anaknya sudah menikah apa belum? sudah ada calon atau belum? dan seterusnya. sampai akhirnya percakapan tersebut menyeret nama saya (keponakannya) yang saat itu sudah lulus kuliah dan belum menikah. Maka percakapan tersebut berlanjut dengan pertemuan terencana.
Pada hari yang telah ditentukan, saya bersama kedua orang tua datang ke rumah budhe. Dia datang dengan ibu dan adiknya. Maksud pertemuan tersebut sekedar bersilaturrahim, bila dirasa saling cocok bisa dilanjutkan, dan bila tidak ya sudah cukup sekedar pernah kenal saja. Isi pertemuannya cuma ngobrol santai bersama-sama di ruang tamu, dan itu pun tak lama. Sekitar satu setengah jam, dia dan keluarganya pun pamit pulang.
Selanjutnya bagaimana? Ya sudah, begitu saja, sekedar bertemu tanpa ada kelanjutannya. Tak ada kabar apa-apa, sampai kemudian budhe berinisiatif bertanya kepada ibunya mengenai kelanjutan pertemuan pertama tempo hari. Jawaban dari ibunya, dia belum ingin menikah dalam waktu dekat, karena adik perempuannya ingin menikah terlebih dulu, dan dia setuju mengalah.
Pikir saya saat itu, ooh ya sudah, berarti bukan jodoh. Yakin sajalah, pada saatnya nanti Allah akan mempertemukan dengan orang lain sebagai jodoh yang terbaik untuk saya.
Waktu pun berlalu...
--**--
Empat tahun kemudian.....
Tahun 2011, kami bertemu kembali di tempat yang berbeda. Dia datang ke tempat kos saya bersama ibunya dan budhe saya (saat itu saya sudah bekerja di luar kota). Mereka bertiga datang jauh-jauh untuk ta'aruf yang lebih serius. Pertemuan kedua ini juga disengaja. Pertemuan yang bermula dari pertanyaan dia kepada ibunya, "cah kae piye kabare saiki yo buk?" (anak itu sekarang kabarnya bagaimana ya buk?) Pertanyaan yang keluar spontan dari seorang putra kepada ibunya, yang kemudian ditanggapi dengan serius oleh sang ibu. Maka ibunya segera menghubungi budhe saya untuk menanyakan kabar saya dan berlanjut merencanakan pertemuan kedua tersebut.
Ya sudah gitu aja sih cerita pertemuannya, datar-datar saja, tak ada yang seru (hehehe).. Dia dan keluarganya sudah serius, tinggal sayanya bagaimana. Kalau ditanya saat itu mau jawab apa, jujur bingung. Mungkin memang dia jawaban dari semua doa-doa, mungkin juga bukan. Mungkin memang dia jodoh saya yang dipilihkan oleh Allah mungkin juga bukan.
Dia sudah cukup dewasa, meski jarak usia kami hanya terpaut satu tahun (lebih tua dia), dia bisa mendewasai saya. Dia yang saat itu belum punya pekerjaan tetap, berjanji akan bekerja keras selaku kepala keluarga. Dia yang menjadikan pernikahan ini nantinya sebagai ibadah, menjalani semuanya karena Allah saja, dia percaya akan ada kemudahan, kebaikan, jalan keluar saat masalah datang menghadang.
Kalau dari sisi orang tua saya, sebenarnya mereka sudah memberikan lampu hijau. Sudah pernah bertemu dengan dia dan keluarganya, sudah mengetahui latar belakangnya, cukup membuat orang tua saya memberikan tanda setuju dan restu. Tetapi keputusan itu diserahkan kepada saya. Kedua orang tua memberikan kebebasan, mereka tidak mau memaksa. Apapun yang menjadi keputusan saya, mereka berdua akan mendukung. Maka kemudian istikhoroh menjadi jalan untuk memantapkan hati.
"Ya Allah, sesungguhnya aku beristikhoroh pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini (sebut urusan tersebut) baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, penghidupan, dan akhir urusanku (baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, takdirkanlah yang terbaik bagiku di mana pun itu sehingga aku pun ridho dengannya."
Kemudian... semua terasa begitu cepat. Pertemuan kedua di tempat kos tadi berlangsung menjelang Ramadhan, satu bulan kemudian atau Bulan Syawal keluarganya datang melamar. Dan Bulan Dzulhijjah kita menikah. Masyaallah...
Bulan depan (Dzulhijjah), insyaallah kami memasuki tahun ke-10 pernikahan. Sepuluh tahun yang penuh warna-warni, suka-duka, ketawa, canda, tangis, dan lain sebagainya. Kami masih terus belajar saling melengkapi dalam pernikahan ini. Masih terus saling belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Semoga Allah meridhoi, menjadikan keluarga kami sakinah mawaddah wa rahmah until Jannah. Dan semoga di tahun ke-10 pernikahan ini Allah karuniakan keturunan yang sholih/sholihah. Aamiin...
Jodoh emang nggak ada yang tau ya mba. Mungkin pertemuan pertama memang belum waktunya. Tapi kalau jodoh juga bakal balik lagi hehe
ReplyDeleteAamiin aamiin ya robb
ReplyDeleteAkupun menuju 10 tahun mba
.
Semoga kayuhan doa-doa kita akan hadirnya penerus jalan dakwah di ridhoi oleh-Nya ya mbaa
Salam kenal dengan ani dari depok
Aamiin ya Robbal Alamiin.... semoga Allah ijabah doa-doanya mbak...., mendapat keturunan sholih/sholihah...
ReplyDeletemasyaa allah, udah 10 taun dan selalu belajar melengkapi dalam pernikahan ya mbak. mungkin memang belajar rumah tangga itu pembelajaran sepanjang hayat yaa
ReplyDeleteBarakallahu fiikum ya ukhtifillah, seneng ya baca kisah taaruf begini, selamat atas satu dekade pernikahannya. Semoga anak-anak kelak berjodoh dan menikah sesuai syariat islam.
ReplyDeleteMasyaa Allah udha 10tahun dan aku baru 5 tahun masih banyak ngeluh 😢
ReplyDeleteUdah 10 tahun & kl crita awal2 perkenalan lucu ya mba..smoga segera dikaruniai anak2 ug sholeh sholehah. Aamiin
ReplyDeleteBarakallah ya Mba, udh 10 tahun pasti dah bener2 paham betul akan karakter masing2..
ReplyDeletemashaAllah langgeng hingga akhir hayat.. Amiin
ReplyDelete