Kami bertemu pertama kali pada tahun 2007, di rumah budhe saya. Bukan kebetulan, tapi memang disengaja. Budhe (kakaknya ibu saya) kenal dengan ibunya dia, trus ya biasa kalau punya anak yang sudah dewasa saling bertanya-tanya, anaknya sudah menikah apa belum? sudah ada calon atau belum? dan seterusnya. sampai akhirnya percakapan tersebut menyeret nama saya (keponakannya) yang saat itu sudah lulus kuliah dan belum menikah. Maka percakapan tersebut berlanjut dengan pertemuan terencana. Pada hari yang telah ditentukan, saya bersama kedua orang tua datang ke rumah budhe. Dia datang dengan ibu dan adiknya. Maksud pertemuan tersebut sekedar bersilaturrahim, bila dirasa saling cocok bisa dilanjutkan, dan bila tidak ya sudah cukup sekedar pernah kenal saja. Isi pertemuannya cuma ngobrol santai bersama-sama di ruang tamu, dan itu pun tak lama. Sekitar satu setengah jam, dia dan keluarganya pun pamit pulang. Selanjutnya bagaimana? Ya sudah, begitu saja, sekedar bertemu tanpa ada kelanjutann...
Sejak menikah, mudik adalah kegiatan tiap tahun yang terasa begitu indah. Moment yang selalu ku tunggu-tunggu saat Idul Fitri tiba. Mudik ke rumah orang tua di Kabupaten Lumajang Jawa Timur yang berjarak kurang lebih 200 Km dari Kabupaten Kediri tempat kami tinggal sekarang. Masih sama-sama di Jawa Timur, yang bila ditempuh dengan mobil memakan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan. Mudik, meski cuma sebentar, entah mengapa selalu terasa begitu menyenangkan. Berkumpul bersama orang tua, saudara, keponakan-keponakan sungguh membuat bahagia. Ngobrol, bercerita, bercanda, sampai tak terasa telah larut malam. Pagi hari tanggal 1 Syawal kami biasanya mengikuti sholat ied di Masjid Agung Anas Mahfudz yang terletak di Alun-Alun Kota Lumajang. Sepulang dari sholat ied saling bermaafan, sungkem kepada orang tua dan bersalaman dengan seluruh keluarga, setelah itu baru sarapan nasi rawon buatan ibu yang rasanya begitu nikmat tak ada tandingan. (Menu wajib Idul Fitri di rumah ibu kami memang bu...